Warning..Keanekaragaman Hayati kita TERANCAM!
Keanekaragaman hayati merupakan modal penting bagi Indonesia karena kita merupakan negara yang disebut “mega biodiversitas”. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan makin intens-nya proses pembangunan yang tidak berpihak pada sisi lingkungan dan budaya, maka lambat laun julukan tersebut akan kita lepas seperti gelar negara “AGRARIS” yang dulu pernah dibanggakan.
Tingginya kearagaman hayati yang kita miliki merupakan modal bagi perkembangan berbagai bidang, termasuk pertanian, peternakan, perikanan, medis, bahkan teknologi masa depan (hi-tech).
Kita perlu tahu, bahwa bahan pangan yang sehari-hari kita konsumsi merupakan hasil berbagai tahap pemuliaan mulai dari seleksi, persilangan, bahkan mutasi. padi yang kita tanam sekarang merupakan hasil pemuliaan dari sejenis alang-alang yang kalau kita perhatikan sangat rendah produktivitasnya. begitu pula jagung dan tanaman lainnya, berasal dari tetua yang sangat jauh produktivitasnya.
Keanekaragaman hayati makin menurun seiring perkembangan zaman
Seiring dengan adanya proses pemuliaan ini, maka jenis tanaman pertanian seperti padi liar telah ditinggalkan oleh masyarakat mengingat produktivitasnya yang rendah. Disadari ata tidak, hal ini merupakan proses punahnya sumber daya genetik dari padi liar. Secara produktivitas/dari pandangan ekonomi, padi liar memang tidak memiliki alasan untuk dibudidayakan, namun dari segi kekayaan sumberdaya hayati (genetik) hal ini justru tidak bijaksana.
Dewasa ini, telah banyak dilakukan usaha pemuliaan dengan berbagai teknik termasuk bioteknologi yang memungkinkan diperoleh bibit unggul. Introduksi gen tertentu yang dapat memacu produktivitas maupun menahan berbagai serangan hama dan pennyakit telah banyak dilakukan. Sehingga tidak heran jika menemukan tanaman padi yangdapat tumbuh di daerah yang kering, tanah asam, maupun tanah dengan kadar logam yang tinggi.
Bioteknologi sangat tergantung pada sumber daya genetik yang dimiliki. Karena berbagai sifat yang mungkin diharapkan terdapar pada bibit unggul, dimiliki oleh organisme yang berlainan. Sehingga dibutuhkan penyusunan (assembly) sekuen gen untuk mendapatkan individu dengan berbagai sifat unggulnya.
Bioteknologi pemuliaan ini tidak jauh dari proses isolasi gen, introduksi, dan ekspresi. Untuk mendapatkan sifat yang tahan hama misalnya, mungkin dibutuhkan materi genetik dari tanaman liar yang resisten. Begitu juga untuk mendapatkan bibit yang tahan cekaman kekeringan atau tanah dengan kadar keasaman yang tinggi, mungkin saja sifat tersebut dapat diperoleh dari tanaman liarnya (wild type).
Karena itu, semakin banyak sumberdaya genetiknya, maka akan semakin baik tanaman transgenik yang dihasilkan.
Hal ini seperti ketika kita mencari suatu informasi dari perpustakaan yang besar dan lengkap, maka tingkat keberhasilannya akan semakin tinggi. Begitu pula dalam merakit tanaman transgenik, semakin banyak sumber daya genetiknya maka akan dihasilkan tanaman transgenik yang makin banyak mengandung sifat-sifat yang kita harapkan.
Hal ini berlaku pula untuk berbagai produk transgenik pertanian secara luas lainnya. Disamping kontroversi yang terjadi di masyarakat, pada kenyataannya organisme transgenik dibutuhkan kehadirannya. Hal ini karena kapasitas produksi sektor pertanian yang makin menyusut sementara tuntutan pemenuhan yang semakin meningkat mengakibatkan ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.
Perkembangan industri sawit kita cenderung tertinggal dari negara tetangga kita malaysia, hal ini salah satu faktornya adalah terbatasnya sumer daya genetik kelapa sawit di Indonesia. Hal ini bebeda dengan malaysia yang memiliki sumber daya genetik kelapa sawit sangat besar, sehingga proses inovasi bibit unggul terhambat. Kalaupun kita ‘meminta’ akses ke sumberdaya genetik dari Malaysia atau negara manapun, akan ada konsekuensinya yang secara ekonomis cukup besar. Hal ini memang diatur dalam konvensi Keanekaragaman Hayati, namun pada praktiknya tetap saja kemungkinan ditemukan perbedaan pemahaman sehingga menghambat proses transfer tersebut.
Sumberdaya genetik asli Indonesia adalah ‘PISANG’..tapi coba bayang kan berapa banyak konntribusi pisang di pasaran dunia??sangat jauh jika dibanding kelapa sawit, padi, ato kedelai misalnya. Coba kita bayangkan, dalam satu mangkuk sayur asem yang sehari-hari dinikmati (terutama urang sunda) ternyata hanya beberapa persen saja yang merupakan asli tanaman Indonesia…dan lebihnya??Berasal dari negara lain!!
Kacang panjang, kedelai, jagung, melinjo, asem dll…merupakan komponen penting sayur asem. tapi ketahuilah kesemuanya itu merupakan BUKAN asli Indonesia!
Karena itu, sumber daya hayati kita sangatlah penting..Cara terbaik dan bijak adalah dengan memelihara dan melestarikannya agar ketika dibutuhkan kita memilikinya..Mereka adalah perpustakaan bagi kita, mungkin saat ini belum banyak informasi berharga yang dapat diungkap. Namun, suatu hari semoga ilmuwan generasi mendatang kita dapat mengungkap misteri keagungan kekayaan alam kita dan membawa angin perubahan yang positif bagi kemakmuran bangsa kita.



